Oleh: Dianita Kusumawardhani Yahya, S.H.I.*

Ada masa ketika langkah menuju ruang kelas terasa ringan, disambut salam hangat dan kepala yang menunduk penuh hormat. Masa itu kini perlahan menjauh, seperti pagi yang tak lagi seteduh dulu. Di ruang kelas yang sama, salam sering menggantung di udara, dijawab sekadarnya, atau bahkan berlalu tanpa makna. Yang paling menyayat bukan suara gaduh atau keterlambatan, melainkan hilangnya adab yang dahulu menjadi napas pendidikan. Padahal Allah telah mengingatkan, “Dan rendahkanlah dirimu terhadap orang-orang mukmin” (QS. Al-Hijr ayat 88). Ayat itu terasa semakin jauh dari keseharian murid-murid hari ini. Sebagai guru fikih di madrasah, adab selalu diyakini sebagai pintu ilmu; tanpa adab, ilmu kehilangan cahaya. Namun pintu itu kini sering tertutup, bukan karena terkunci, melainkan karena tak lagi dianggap penting untuk diketuk. Di sanalah hati seorang guru diuji: tetap mengetuk dengan sabar, atau menyerah pada kelelahan yang perlahan menggerogoti.
Rutinitas di madrasah berjalan seperti biasa: datang pagi, menyiapkan pelajaran, mengisi presensi, mengingatkan tugas, dan menegur keterlambatan yang berulang. Tanggung jawab guru fikih hari ini bukan hanya mengajarkan materi, tentang rukun ibadah dan batas halal haram, tetapi juga menjaga adab agar tidak benar-benar punah. Perubahan zaman berjalan cepat, sering kali meninggalkan guru tertatih di belakangnya. Gawai lebih sering digenggam daripada kitab, pesan di grup kelas lebih sering dibaca daripada dijawab. Keterlambatan dianggap lumrah, tugas dipandang sepele, dan adab menjadi sikap yang bisa dipilih-pilih. Ironisnya, sebagian murid mampu bersikap sopan kepada guru tertentu, namun meremehkan guru lainnya, seolah hormat bisa disesuaikan dengan selera. Padahal Rasulullah SAW telah bersabda, “Bukan termasuk golongan kami orang yang tidak menghormati yang lebih tua dan tidak menyayangi yang lebih muda” (HR. Ahmad). Sabda itu terdengar begitu tegas, sekaligus getir, ketika berhadapan dengan kenyataan di kelas hari ini.
Sebagai wali kelas, luka itu terasa lebih dekat dan lebih dalam. Anak-anak yang seharusnya dibimbing justru kerap menunjukkan sikap acuh. Nasihat yang disampaikan berulang kali sering berlalu begitu saja, masuk telinga kanan, keluar telinga kiri. Pesan pengingat di grup kelas berakhir dengan centang dua biru tanpa respons, seakan kepedulian guru cukup dibalas dengan diam. Ketika tugas ditagih, jawaban singkat terlontar tanpa rasa bersalah. Kekecewaan bukan lahir dari ketidaksempurnaan murid, melainkan dari sikap menyepelekan proses. Harapan yang disematkan dalam doa perlahan runtuh oleh kenyataan bahwa anak didik tak tumbuh sesuai ekspektasi. Ada hari-hari ketika dada terasa sesak, bukan karena lelah fisik, tetapi karena hati yang patah pelan-pelan. Dalam sujud panjang, terlantun doa lirih, mengingat firman Allah, “Sesungguhnya engkau tidak dapat memberi petunjuk kepada orang yang engkau cintai, tetapi Allah memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki” (QS. Al-Qashash ayat 56). Ayat itu menjadi pengingat pahit sekaligus penenang, bahwa tugas guru adalah menyampaikan, bukan menentukan hasil.
Waktu kemudian mengajarkan penerimaan. Mendidik bukan tentang melihat hasil segera, melainkan tentang menunaikan amanah dengan sabar. Tidak semua benih tumbuh di hadapan penanamnya. Ada yang baru bersemi setelah jarak dan waktu memisahkan guru dan murid. Kesadaran ini menuntun pada refleksi diri: adab yang memudar bukan semata-mata kesalahan murid, tetapi juga potret zaman, lingkungan, dan rumah yang membesarkan mereka. Sebagai guru fikih, kembali terngiang teladan Rasulullah SAW yang berdakwah dengan kelembutan, bahkan kepada mereka yang menolak dan menyakiti. Bukankah beliau bersabda, “Sesungguhnya kelembutan tidaklah ada pada sesuatu melainkan akan menghiasinya” (HR. Muslim). Maka dipilihlah untuk tetap lembut, tetap menasihati, dan tetap hadir, meski sering diabaikan. Menjadi wali kelas berarti belajar menurunkan ekspektasi, meninggikan empati, dan meluruskan niat agar semua kembali karena Allah, bukan demi pengakuan manusia.
Di titik inilah disadari bahwa mendidik adab tidak bisa diselesaikan dengan suara yang meninggi atau aturan yang berlapis-lapis. Ada murid yang datang ke kelas membawa luka dari rumah, ada yang tumbuh tanpa teladan, ada pula yang terbiasa dimenangkan oleh keadaan. Sikap acuh yang tampak di kelas sering kali hanyalah bahasa lain dari kebingungan yang tak mampu mereka ucapkan. Kesadaran ini mengikis keinginan untuk menuntut lebih, dan perlahan menggantinya dengan kesediaan untuk memahami. Barangkali tugas guru bukan mengubah semuanya, melainkan menjadi satu sosok dewasa yang tetap waras, sabar, dan adil di tengah kegaduhan. Di sanalah adab mulai ditanam kembali, bukan lewat kata-kata keras, tetapi lewat konsistensi sikap yang tak lelah mencontohkan kebaikan.
Kini, harapan itu tak lagi berbentuk tuntutan besar, melainkan doa-doa sederhana yang dipanjatkan setiap selesai shalat. Semoga Allah melembutkan hati murid-murid yang pernah dibimbing, membuka mata mereka tentang makna hormat, tanggung jawab, dan adab kepada guru. Semoga adab yang hari ini tampak pudar, suatu hari tumbuh kembali, meski perlahan, meski setelah mereka dewasa dan mengenang bangku madrasah sebagai tempat belajar tentang kehidupan. Madrasah dan rumah diharapkan dapat berjalan seiring, saling menguatkan, saling mengingatkan, sebagaimana perintah Allah, “Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka” (QS. At-Tahrim ayat 6). Kepada diri sendiri, janji itu diteguhkan: tetap bertahan di jalan ini, meski sering lelah dan terluka, karena mendidik adab bukan tugas singkat, melainkan perjalanan panjang yang menuntut kesabaran tanpa tepuk tangan. Selama masih diberi kesempatan berdiri di depan kelas, benih itu akan terus ditanam, disiram dengan doa, dan diserahkan sepenuhnya kepada Allah, sebab cahaya adab tak pernah benar-benar padam; ia hanya meredup, menunggu tangan-tangan sabar untuk menyalakannya kembali, meski harus dimulai dari satu hati, satu kelas, atau satu murid yang kelak mengerti arti hormat.
*Staf Pengajar Mata Pelajaran Fiqih MTsN 13 Tasikmalaya