(30/04/2024)
Selamat datang, seluruh warga MTsN 13 Tasikmalaya! Kami dengan bangga mengumumkan peluncuran resmi website baru sekolah kami yang bertujuan untuk ...
Diupdate Tgl. 15/04/2026 |
Artikel |
Administrator | Dilihat 39x
Oleh Agus Nana Nuryana*
Hari ini, kita hidup di zaman yang sangat berbeda.
Anak-anak kita tumbuh bersama teknologi. Di tangan mereka ada handphone, di dalamnya ada dunia tanpa batas. Apa pun bisa mereka lihat, dengar, dan pelajari—dalam hitungan detik.
Sekilas, ini terlihat luar biasa.
Tapi, pernahkah kita bertanya: apa yang sebenarnya sedang mereka pelajari setiap hari?
Di madrasah, kami mulai melihat sesuatu yang perlu kita renungkan bersama.
Ada anak-anak yang tampak baik-baik saja, tetapi perlahan berubah. Adab mulai berkurang, sikap mulai berbeda, dan jati diri mereka seolah semakin kabur.
Padahal, informasi yang mereka dapatkan justru semakin banyak.
Inilah paradoks zaman ini: ilmu semakin mudah didapat, tetapi karakter justru semakin sulit dibentuk.
Guru: Lebih dari Sekadar Penyampai Materi
Selama ini, kita mungkin merasa tugas utama guru adalah menyampaikan pelajaran. Menjelaskan materi, memberi tugas, lalu mengejar target kurikulum.
Namun kenyataannya, hari ini anak-anak bisa belajar materi pelajaran dari mana saja. Dari internet, video pembelajaran, bahkan dari media sosial.
Lalu, apa yang tidak bisa mereka dapatkan dari internet?
Jawabannya sederhana: keteladanan.
Mereka tidak bisa “mengunduh” akhlak.
Mereka tidak bisa “streaming” nilai kehidupan.
Mereka tidak bisa “search” sosok yang benar-benar membimbing mereka.
Di sinilah peran guru menjadi sangat penting.
Guru bukan hanya pengajar.
Guru adalah pembentuk karakter.
Guru adalah contoh hidup yang dilihat setiap hari.
Saatnya Berubah: Dari Mengajar ke Mendidik
Mungkin sudah saatnya kita mengubah cara pandang.
Dari:
sekadar menyampaikan materi
menjadi membentuk karakter
Dari:
mengejar target pelajaran
menjadi menanamkan nilai kehidupan
Karena pada akhirnya, yang akan diingat oleh siswa bukan hanya apa yang kita ajarkan, tetapi bagaimana kita bersikap kepada mereka.
Hal Kecil yang Berdampak Besar
Membangun karakter tidak selalu harus melalui program besar.
Kadang justru dimulai dari hal sederhana:
Menyapa siswa dengan tulus
Mendengarkan mereka dengan empati
Menegur dengan cara yang baik
Memberi contoh dalam setiap tindakan
Hal-hal kecil inilah yang diam-diam membentuk jiwa mereka.
Teknologi Bukan Musuh, Tapi Harus Diarahkan
Kita tidak bisa menjauhkan anak dari teknologi. Itu bukan solusi.
Yang bisa kita lakukan adalah: mengarahkan, bukan melarang.
Bimbing mereka agar:
menggunakan gadget untuk belajar
memilah informasi yang baik
tidak kehilangan jati diri di tengah arus digital
Refleksi untuk Kita Semua
Mari kita bertanya pada diri kita:
Sudahkah kita benar-benar mendidik?
Atau kita baru sekadar mengajar?
Sudahkah kita menjadi teladan?
Atau hanya menjadi penyampai materi?
Penutup: Pendidikan yang Memanusiakan
Madrasah bukan hanya tempat belajar ilmu.
Madrasah adalah tempat membentuk manusia.
Dan itu tidak akan terjadi tanpa peran guru yang peduli.
Mari kita mulai dari diri kita.
Menjadi guru yang tidak hanya mengajar, tetapi juga mendidik.
Tidak hanya mencerdaskan, tetapi juga membentuk akhlak.
Karena di tangan kitalah, masa depan anak-anak itu ditentukan.
(30/04/2024)
Selamat datang, seluruh warga MTsN 13 Tasikmalaya! Kami dengan bangga mengumumkan peluncuran resmi website baru sekolah kami yang bertujuan untuk ...