
Semangat literasi kembali tumbuh di lingkungan MTsN 13 Tasikmalaya. Salah seorang guru fiqih MTsN 13 Tasikmalaya, Dianiata Kusuma Wardani Yahya, S.H.I., turut menorehkan karya dalam sebuah buku antologi bertema karakter yang berjudul Hilangnya Etika: Adab Murid yang Memudar di Tengah Kebisingan Zaman yang diterbitkan oleh penerbit Alineaku.
Dalam buku tersebut, beliau menulis sebuah artikel berjudul “Di Antara Salam yang Tak Terjawab”. Tulisan itu lahir dari kegelisahan seorang pendidik terhadap fenomena memudarnya adab murid dalam kehidupan sehari-hari. Melalui tulisannya, beliau menggambarkan bagaimana nilai-nilai kesopanan, penghormatan kepada guru, dan budaya saling menyapa mulai mengalami penurunan di tengah derasnya arus perkembangan zaman dan pengaruh dunia digital.
Sebagai guru fiqih, Dianiata memandang bahwa tugas seorang guru tidak hanya sebatas menyampaikan ilmu pengetahuan di dalam kelas. Lebih dari itu, guru memiliki tanggung jawab moral untuk menanamkan nilai-nilai adab dan akhlak mulia kepada para murid. Menurut beliau, pendidikan sejatinya bukan hanya tentang kecerdasan intelektual, tetapi juga pembentukan karakter yang baik.
“Guru hari ini tidak cukup hanya hadir sebagai penyampai materi pembelajaran. Guru harus mampu menjadi teladan dalam sikap, ucapan, dan perilaku agar murid dapat melihat langsung contoh adab yang baik,”
Kepala MTsN 13 Tasikmalaya, Agus Nana Nuryana, M.M.Pd., memberikan apresiasi atas karya yang telah dihasilkan oleh Dianiata. Beliau berharap langkah positif tersebut dapat menjadi inspirasi bagi guru-guru lainnya untuk terus berkarya dan menumbuhkan budaya literasi di lingkungan madrasah.
Apresiasi tersebut disampaikan saat beliau menerima buku hadiah dari penulis yang nantinya akan menjadi koleksi perpustakaan madrasah. Momentum tersebut sekaligus menjadi bagian dari kegiatan rutin diseminasi ilmu yang selama ini menjadi wadah berbagi gagasan dan pengalaman antarpendidik di MTsN 13 Tasikmalaya.
Menurut Agus Nana Nuryana, karya tulis seperti ini sangat penting karena mampu menjadi media refleksi bagi dunia pendidikan, khususnya dalam menghadapi tantangan karakter generasi muda saat ini. Beliau menegaskan bahwa pendidikan karakter harus terus diperkuat melalui keteladanan, pembiasaan, dan kolaborasi seluruh warga madrasah.
Kehadiran buku Hilangnya Etika diharapkan dapat membuka kesadaran bersama bahwa adab merupakan fondasi utama dalam proses pendidikan. Ilmu tanpa adab akan kehilangan makna, sedangkan adab yang baik akan menjadi cahaya dalam kehidupan.
Melalui karya ini, MTsN 13 Tasikmalaya kembali menunjukkan komitmennya dalam mendukung budaya literasi serta penguatan pendidikan karakter di madrasah. Semoga semangat berkarya dan menebarkan nilai-nilai kebaikan terus tumbuh di kalangan pendidik demi terciptanya generasi yang cerdas, berakhlak, dan berkarakter mulia.
