
Setiawangi – Rabu, 2 September 2026
Suasana khidmat di lingkungan MTsN 13 Tasikmalaya pagi tadi perlahan berubah menjadi riuh dan penuh semangat. Selepas pembiasaan salat Duha dan kultum, para siswa berjejer di lapangan untuk mengikuti aktivitas rutin setiap hari Rabu, yaitu senam pagi.
Namun, di sudut lain madrasah, tampak sebagian siswa kelas VIII berlalu-lalang membawa berbagai peralatan dan perlengkapan yang tidak biasa mereka bawa setiap hari. Ada yang membawa peralatan memasak, menyiapkan kayu bakar, hingga mempersiapkan bahan utama yang akan diolah.
Ya, hari ini bukan sekadar hari belajar seperti biasanya. Sesuai jadwal yang telah ditetapkan oleh Koordinator Kokurikuler Kelas VIII, para siswa akan mengikuti kegiatan praktik yang dirancang dalam tema kearifan lokal dan kewirausahaan, yaitu membuat tape singkong.
Kegiatan ini mungkin terdengar sederhana. Bahkan, bagi sebagian orang, membuat tape singkong merupakan kegiatan yang terkesan kuno di tengah maraknya berbagai makanan kekinian. Namun, justru di situlah letak nilai pentingnya. Melalui kegiatan sederhana ini, madrasah berupaya mengenalkan kembali kekayaan pangan tradisional kepada generasi muda sekaligus menanamkan kecintaan terhadap makanan khas daerah.
Tape singkong dipilih bukan tanpa alasan. Singkong merupakan salah satu bahan pangan yang dekat dengan kehidupan masyarakat, khususnya di wilayah Jawa Barat. Melalui praktik ini, siswa tidak hanya mengetahui bagaimana sebuah makanan tradisional dibuat, tetapi juga belajar menghargai potensi alam dan kearifan lokal yang ada di lingkungan sekitar.
Kegiatan dimulai sekitar pukul 08.00 WIB dan diikuti oleh seluruh siswa kelas VIII. Para siswa dibagi ke dalam beberapa kelompok. Setiap kelompok bekerja bersama dan mengikuti seluruh tahapan pembuatan tape dengan bimbingan para fasilitator.
Dimulai dari mengupas singkong, membersihkan, menyiapkan perapian dengan kayu bakar, merebus singkong, meniriskan, hingga tahap pemberian ragi. Setelah itu, singkong ditata dan disimpan dengan baik untuk menjalani proses fermentasi selama beberapa hari.
Setiap tahapan menjadi pengalaman belajar tersendiri bagi siswa. Mereka tidak hanya belajar tentang proses pengolahan makanan, tetapi juga belajar bekerja sama, berbagi tugas, menjaga kebersihan, mengikuti prosedur, serta bertanggung jawab terhadap hasil pekerjaan kelompoknya.
Suasana kegiatan pun berlangsung semarak. Para siswa terlihat antusias, bersemangat, dan menikmati setiap proses yang dilakukan. Sesekali terdengar tawa dan canda di antara mereka, menjadikan praktik sederhana tersebut terasa seperti pengalaman belajar yang menyenangkan.
Koordinator Kokurikuler Kelas VIII, Ibu Lia Ismaya, S.Pd., menyampaikan bahwa kegiatan tersebut memiliki manfaat yang besar bagi siswa.
“Kegiatan ini sangat bermanfaat untuk mengenalkan anak-anak pada makanan tradisional daerah sekaligus menumbuhkan kecintaan mereka terhadap makanan khas daerahnya. Apalagi Setiawangi dikenal sebagai daerah yang tanahnya subur dan banyak ditumbuhi singkong,” ungkapnya.
Lebih dari sekadar menghasilkan tape singkong, kegiatan ini menjadi ruang bagi siswa untuk memahami bahwa pembelajaran dapat berlangsung di mana saja. Dari singkong mereka belajar tentang proses, dari kerja kelompok mereka belajar kebersamaan, dan dari pangan lokal mereka belajar menghargai potensi daerah.
Kegiatan berakhir sekitar pukul 10.00 WIB. Namun, proses belajar belum benar-benar selesai. Singkong yang telah diberi ragi kini masih harus menunggu beberapa hari untuk melihat hasil fermentasinya.
Ada rasa penasaran yang tersimpan di sana: Apakah tape yang dibuat akan berhasil? Bagaimana rasanya nanti?
Pertanyaan-pertanyaan sederhana itulah yang membuat pembelajaran menjadi pengalaman yang berkesan.
Sebab, pendidikan bukan hanya tentang apa yang tertulis di buku. Terkadang, sebuah pengalaman sederhana—mengupas singkong, menyalakan perapian, bekerja bersama, hingga menunggu hasil fermentasi justru dapat meninggalkan pelajaran yang lebih lama diingat.
Dari singkong, siswa belajar tentang kearifan lokal. Dari proses, mereka belajar tentang kesabaran. Dari kebersamaan, mereka belajar tentang kerja sama. Dan dari tape singkong, mereka belajar bahwa sesuatu yang sederhana pun dapat memiliki nilai dan manfaat yang luar biasa.
Semoga kegiatan kokurikuler ini tidak berhenti sebagai aktivitas praktik semata, tetapi menjadi pengalaman bermakna yang menumbuhkan kreativitas, kemandirian, kecintaan terhadap pangan lokal, serta semangat kewirausahaan dalam diri siswa MTsN 13 Tasikmalaya.


